Boros BBM, Ngempos, Nahan, Tarikan Loyo. Ini obatnya

official fuel consumption figures explained 28468_1

Nah sekarang qt bahas mengenai efisiensi exhaust, kenapa dia berpengaruh pada konsumsi BBM dan tenaga mesin. Exhaust yang ideal itu ialah yang sesuai kebutuhan penggunaan. Sesuai dengan powerband (penggunaan RPM) yang paling sering kita pakai dan kita inginkan. Jadi jangan salah desain, bila biasa cruising rpm 3000-6000 ngapain kita gunakan exhaust yang memiliki spesifikasi untuk rpm 8000rpm?

Dari post sebelumnya kita mungkin bertanya kenapa sih pembuangan exhaust gas harus dibikin lancar? harus ada pembilasan/scavenging dsb? Bukannya banyak dibuang pasti akan lebih banyak boros?

Waaahhh, beginiiii…….. Yang dibuang selancar – lancarnya dan perlu dibilas sebersih2nya itu adalah kotoran lho, Exhaust Gas! Gas yang sudah jenuh dan tidak mengandung O2 lagi. Kalo kotoran kotoran tersebut tersisa dijantung mesin (ruang bakar), hal ini yang bikin boros! Tenaga Loyo.

Sama aja tubuh manusia PUPnya kita tahan2 gak dibuang keluar, atau kita hirup oksigen lantas  CO2 nya kita tahan dalam tubuh kita, mati bisa.

Itulah kenapa exhaust system ini perlu kita desain sebaik-baiknya sesuai dengan kebutuhan, tidak asal ganti RESING, Done.  Penyakit penggunaan exhaust system yang salah itu biasanya bahasa orang kita ada dua : Ngempos, dan Nahan. Sebenernya sih ini istilah terhadap perasaan driver pada performa kendaraannya.

  • Nah apasih ngempos itu? “Ngempos banget mobil, kudu ngedennn ngegas dalem baru bisa ngedorong”. Ngempos itu biasanya bila driver merasakan torsi yang sangat kurang pada Low and Mid RPM. Lack Of Torque ini terjadi biasanya karena airspeed yang sangat rendah pada exhaust system, sehingga driver kudu ngeden menekan pedal gas lebih dari semestinya karena putaran mesin harus dibawa ke rpm tinggi baru tenaganya ideal buat ngebawa body kendaraan. Airspeed yang terlalu rendah akan menghasilkan volumetric effisiensi yang payah di Low and Mid RPM. Hal ini lah yang membuat konsumsi BBM menjadi boros.

 

  • Nah, lantas Nahan itu rasa yang bagaimana? “Mobil gw nahan nihhhhh, gak mau lepas atasnya“. Nahh, Nahan biasa nya terucap bila ada keluhan RPM atas yang terasa kurang bertenaga. Hal ini kebalikan dari Ngempos, biasanya airspeed dari exhaust system terlalu tinggi atau bahkan turbulen, sehingga mesin tidak menerima asupan oksigen yang cukup pada rpm tinggi. Karena kurva volumetric efficiency nya sudah turun drastis . Sudah ditampol gas dalam2, padahal mesin sudah teriak, tenaga tetap saja berasa kurang. CO2 yang tersisa diruang bakar terlalu banyak, Inipun hasilnya boros.

Sebetulnya adalagi Faktor Suggestif suara vs tenaga, hal ini terkait dengan suara yang dihasilkan setelah penggantian resonator maupun muffler. Terkadang (ada beberapa kasus), walaupun secara statistik tenaganya lebih besar menggunakan resonator dan muffler freeflow. Tapi karena besarnya suara yang didengar driver, secara tidak langsung driver akan berasumsi “Koq ngisian (torsi) waktu muffler dan reson standart?“. Hal ini menurut saya sebetulnya lebih ke arah sugestif. Perbadingan Suara per Tenaga yang dihasilkan lebih besar Suara muffler Freeflow. Tarolah dengan mesin standart kita dapatkan 150 db (desibel) dan torsi mesin 100NM, perbandingannya 1.5:1 . Nah sedangkan dengan muffler freeflow suaranya 200 db dan torsi mesin 125NM (contoh doank lho), perbandingannya 1.6:1. Otomatis kita akan berasumsi 200 db itu sebagai “mesin bekerja lebih keras” padahal tidak, suara exhaustnya saja yang lebih keras. Inilah faktor sugestif yang sangat sering terjadi. Banyak driver yang ingin suara jauh lebih halus walapun torsinya lebih berkurang, driver anggap sebagai lebih “ngisi”. Walaupun bila diukur secara statistic (dyno) powernya berkurang.

Nah ada pula yang kebalikannya ada yang senang suara teriak sejadi2nya driver anggap itu serasa power yang “lepas” (padahal mobil jalannya disitu2 aja x_x ).

Inilah faktor sugestif yang saya maksud. Hal ini saya bahas karena sewaktu obrolan dengan kawan saya. “Iya lhoo, walaupun di test time di Drag waktunya sama2 aja, tapi saat pake reson yang lama, mobil tu terasa ngisinya beda banget. Bawaannya ya beda aja. Pokonya gw lebih seneng reson yang lama“. Hehe, sugestif kan. bro “B” dan “R” ini obrolan qt sambil makan pecel 😀 😀 .

“Nah bro, saya udah pakai exhaust yang perhitungan sesuai request, power enak banget bro! Tiap bawa mobil ane tiban terus. Tapi koq tetep boros?????? Masih salah itungan???” Ya iyalah Kakinya gatel “ane tiban terus” wkwkwkwkwk. Mobil mana pun juga bakal boros kalo gasnya ditiban terus.

Nah, jadi jelas yaaaah. Kenapa desain exhaust itu mempengaruhi konsumsi BBM dan tarikan. Size Does Matters.

Ganti Hi-Performance Exhaust (Dengan perhitungan yang akurat) ternyata bisa jadi obat biar BBM irit , dengan bonus Performa kendaraan meningkat pastinya 🙂

Kurang lebih demikian yang saya bisa share. Kalau ada yang perlu ditambahkan nanti akan saya update post ini 🙂

 

Happy Driving.