Muffler Design

muffler desing

 

Muffler sesuai dengan namanya , yang berarti peredam berfungsi sebagai peredam suara. Karakter suara yang dihasilkan muffler sangat tergantung oleh ukuran dan material dari muffler tersebut.

Muffler yang baik harus dapat mengalirkan debit gas buang secara optimum namun mampu meredam Presure Wave dengan optimum. Aliran gas buang dan Pressure wave adalah hal yang berbeda. Dimana aliran gas buang memiliki Debit/Flow yang harus selancar mungkin terbuang ke atmosphere, sedangkan pressure wave adalah gelombang tekanan yang mana bila berbenturan langsung dengan atmoshpere akan menimbulkan suara tumburan yang keras, inilah yang menghasilkan suara pekak.

Kebanyakan orang salah kaprah dalam melakukan peredaman suara dengan menggunakan hal yang malah mereduksi kemampuan mengalirnya Flow tersebut. Inilah yang membuat power mesin serasa loyo dan boros, karena flow yang tertahan membuat C02 yang seharusnya terbuang pada atmosphere malah tertahan dalam ruang bakar yang seharusnya hanya berisi Oksigen. Ada pula yang ingin mengatasa loyo nya mesin tersebut dengan membuat muffler yang mampu mengalirkan Flow sebesar besarnya, namun lupa bahwa Flow yang jauh melebihi kebutuhan mesin bisa jadi memiliki area yang terlalu besar dan menghasilkan Air Velocity yang rendah dan lemah, alhasil torsi berkurang dan juga boros.

Dibawah ini adalah salah satu contoh muffler straight thru atau dikenal dengan muffler freeflow terdapat tiga bagian yang perlu diketahui.

muffler-glasspack

 

Inner pipe ialah jalur dimana aliran gas buang mengalir didalamnya. Yang didalamnya terdapat lubang lubang kecil (perforated). Penentuan diameter inlet pipe dan perforated tersebut sangat berpengaruh terhadap performa kendaraan dan juga karakteristik suara yang dihasilkan. Diameter inlet yang terlalu kecil dapat membuat mesin susah untuk melepaskan debit gas buang kepada atmosphere bebas, namun diameter yang terlalu besar sebaliknya dapat mengurangi kecepatan aliran udara yang mengarah keluar. Kurang lebih seperti pada perhitungan debit pada resonator di post sebelumnya.

Nah perforated pada bagian Inlet pipe bila memiliki jarak yang renggang maka jumlahnya akan sedikit, dan hal ini membuat efek peredaman suara menjadi berkurang, namun dapat menyalurkan pembuangan dengan lebih baik. Sebaliknya, bila jaraknya rapat dan jumlahnya menjadi lebih banyak, peredaman suara dapat terjadi secara lebih optimum, namun penyaluran pembuangan menjadi berkurang. Diameter perforated tadi pun memiliki karakter tersendiri, bila terlalu besar diameter perforated tadi, aliran gas buang menjadi turbulen, hal ini tidak baik bagi proses lancarnya proses pembuangan. Sebaliknya diameter perforated yang kecil laminer dapat menghasilkan aliran gas buang yang laminer, semakin kecil semakin laminer, menjadikan lancarny proses pembuangan, namun proses peredaman menjadi berkurang.

Sound insulation chamber ialah ruang tempat bahan peredam suara berada. Disinal diserapnya suara pekak dari gas buang yang keluar. Semakin besar volume chamber semakin baik pula peredaman suaranya. Peredaman suara dibantu juga oleh glasswool yang terdapat pada Sound insulation chamber. Material glasswool yang baik harus tahan terhadap panas, karena glasswool berhadapan langsung dengan panas gas buang dari mesin, dan proses pengisian glasswool pun dapat mempengaruhi tenaga mesin lho! Koq bisa? Ya, karena glasswool yang terlalu longgar pada area yang bersentuhan langsung dengan inlet pipe dapat membuat lolosnya Exhaust Flow secara berlebihan kedalam chamber, ini pula yang membuat Flow menjadi turbulen. Glasswool seharusnya memiliki kerapatan yang tinggi pada bagian yang bersentuhan dengan inlet pipe, agar mencegah terjadinya aliran/Flow yang turbulen tadi. Dan memiliki kerapatan lebih rendah pada bagian yang mengarah pada housing agar dapat meredam pressure wave yang membawa suara. Itulah kenapa salah satu produsen jepang (HKS atau Apexi, saya lupa) sampai menggunakan mesin macam pemintal benang  untuk proses pemasangan glasswolnya.

 

FacebookTwitterGoogle+Bookmark/FavoritesShare